Syukron Makmun: Perbanyaklah Bid’ah Khasanah

kh-syukron-makmun-640x420Selasa, 12 Januari 2016

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Sebagian kalangan umat Islam melarang muslim untuk melakukan bid’ah, ulama senior Jakarta, KH Syukron Makmun malah meminta umat Islam di Indonesia untuk memperbanyak bid’ah.

Hanya saja menurut ukron, bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah khasanah. Dalam kata lain, perbuatan yang tidak dilakukan Rasulullah tetapi sesuai dengan tuntunan Alquran dan Sunnah.

“Perbanyak bid’ah khasanah yang sesuai dengan tuntunan agama,”kata pengasuh Pondok Pesantren Darul Rhman, Jakarta, saat menjadi pembicara dalam peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Masjid Al Ikhlas, Condet, Jakarta, Sabtu (10/1) malam.

Dia menjelaskan, bid’ah khasanah sesuai dengan perintah Rasulullah dalam tuntunan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…Siapa yang memulai membuat tradisi yang baik dalam islam, maka dia mendapat pahala perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengamalkan perbuatan baik tersebut setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun pahala pengikutnya, dan siapa yang memulai membuat tradisi yang buruk dalam islam, maka dia mendapat dosa perbuatan buruknya dan dosa orang yang mengamalkan perbuatan buruk tersebut setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dosa pengikutnya.” HR. Muslim.[1]

Menurutnya, penyelenggaraan Maulid Nabi termasuk dalam bid’ah khasanah. Meski Rasulullah tidak pernah merayakan maulid dengan acara khusus, dia menjelaskan, Rasulullah menghormati hari kelahirannya dengan berpuasa setiap Senin. Karena itu, ujar Kiai Syukron, Rasulullah pun memperingati hari kelahirannya. “Peringatan maulid dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah,”katanya.

Dia menegaskan, bid’ah khasanah juga dilakukan pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Ketika itu, Umar yang melihat jamaah Masjid Nabawi di Madinah melakukan shalat tarawih dengan sendiri-sendiri. Umar pun menginisiasi agar mereka melakukan shalat tarawih berjamaah. Umar kemudian menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam shalat tarawih karena bacaannya yang baik.

Sementara, dia menjelaskan, bid’ah dholalah merupakan bid’ah yang tak boleh dilakukan oleh umat Islam. Kiai Syukron lantas mencontohkan, ritual sedekah laut dengan membuang kepala kerbau ke tengah laut sebagai lambang rasa syukur termasuk bid’ah dholalah yang dilarang agama.

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: