Tanda-tanda Akhir Zaman; yang Berbeda Dianggap Kafir dan Sesat

Minggu, 17 September 2017

ISLAMNUSANTARA.COM – Tanda-tanda akhir zaman sudah mulai nampak jelas. dimana, Ulama sebagai tokoh agama banyak yang dihina dan difitnah. Tidak tanggung-tanggung, hinaan dan fitnah itu disebarkan kemana-mana dengan media sosial. Yang melakukan fitnah bukan orang lain, tapi saudara Islam sendiri yang mengaku paling Islam.

Sekali beda dianggap kafir, yahudi, liberal, syi’ah dan lainnya. Lalu siapa mereka itu? Dan bagaimana kita menghadapinya?

Yang jelas bahwa ulama yang dihina dan difitnah adalah berhaluan ahlussunnah wal jama’ah annahdliyyah. Berarti para penghina dan pemfitnah adalah yang tidak suka aswaja bangkit di bumi pertiwi.

Dalam menghadapi suasana seperti ini, maka perlu sekali makin mendekat dengan para Kiai. Kiai yang jelas-jelas keilmuannya dan memiliki integritas di tengah masyatakat. Bukan sosok ustadz karbitan yang bermodal surban dan peci putih.

Suasana yang semacam ini, ulama akan menghadapi ujian dunia sudah jauh hari diramalkan oleh Syekh Subakir (tokoh pembawa Islam di Jawa). Sejak itu ia menitipkan agar Jawa dijaga saat manusia sudah banyak. “Ingat-ingatlah pesanku dan laksanakanlah” pesan Syekh Subakir kala itu.

Ini menunjukkan nyata bahwa menjaga Islam rahmatan lil ‘alamin itu tidak mudah. Islam yang sedang diperjuangkan di bumi Indonesia adalah Islam kelanjutan Walisongo. Ulama lah yang melanjutkan perjuangan Walisongo.

Jadi jika ada yang mencoba berani melawan ulama, maka bisa dipastikan dari kelompok yang anti-Walisongo. Gerakan bid’ah dan takfiri itu yang diusung untuk melemahkan kemuliaan Kiai dalam membimbing umatnya.

Bagi Kiai, dihina dan difitnah itu hal biasa. Justeru akan menambah nilai plus dalam menguji kedekatan pada Allah. Namun bagi santri, belum siap jika Kiainya difitnah hingga melecehkan pribadi-pribadi.

Dalam rangka menghadapi suasana krisis moral ini, bergandeng tangan menjadi hal penting. Dekatlah pada Kiai agar kita dibimbing tidak dengan emosi. Dan perjuangan menjaga marwah aswaja tetap dilakukan dengan baik. (ISNU)

Sumber: Dutaislam

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: