Tangkal Paham Radikalisme dan Terorisme Sejak Usia Dini

Rabu, 13 September 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Anak memiliki dunia yang berbeda dengan orang dewasa, yaitu dunia bermain. Anak-anak secara psikologis dan sesuai perkembangannya, sudah selayaknya dibiarkan untuk bermain dan mencari teman sebanyak-banyaknya. Anak merupakan tunas dan aset bangsa yang tidak ternilai harganya, sehingga berhak mendapatkan perlakuan yang istimewa.

Beberapa hari yang lalu, mencuat kasus bocah umur 11 tahun asal Indonesia bernama Hatf Saiful Rasul yang harus meninggalkan bangku sekolahnya dan memilih terbang ke Suriah untuk menjadi militan ISIS. Sungguh ironis, masa kecil anak-anak yang seharusnya bisa mengenyam pendidikan dan merayakan suasana kecerian dan cinta kasih sayang, justru menjadi masa-masa yang sangat mengerikan di usia belianya.

Sebagaimana diberitakan harakatuna, Senin (11/9/2017), Hatf Saiful Rasul adalah salah satu dari 12 orang terdiri dari delapan orang guru dan empat orang pelajar yang menjadi militan ISIS di Suriah. Namun, nasib malang menimpa bocah tersebut. Bersama tiga militan lainnya, Hatf dihujam serangan udara di Kota Jarabulus, Suriah, dan ketiga-tinganya dinyatakan tewas.

Menurut data dari Komnas Anak, setidaknya ada 200 anak di luar wilayah hukum Indonesia telah dilatih jihad ala tentara dengan mengedepankan permusuhan dan kebencian. Sejumlah 41 persen dari 256 SD Negeri tidak mengajarkan dan memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara.

Selain data di atas, Komnas Anak juga juga menemukan fakta lain, bahwa sebanyak 79,05 persen siswa mempertimbangkan agama dalam memilih teman dan anak diajarkan kebencian, dengan cara melibatkan anak dalam aksi demonstrasi, kegiatan politik orang dewasa yang dibungkus dengan identitas agama. Sebanyak 62,8 persen remaja memilih jihad untuk mengimplementasikan heroik remaja. Melihat kondisi demikian, tentu paham radikalisme sedemikian akut sekaligus mengkhawatirkan bagi masa depan generasi anak-anak.

Setidaknya, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya benih-benih radikalisme pada usia dini. Pertama, seiring pesatnya perkembangan tekhnologi digital, dunia realitas anak mulai bergeser dan tidak sedikit dibangun oleh berbagai bentuk realitas yang siap pakai, seperti hadirnya gadget.

Sudah menjadi rahasia umum, dunia virtual gadget rentan terhadap sajian citra yang mengandung unsur-unsur yang cederung mengarah pada tindakan radikalisme. Ketika anak-anak berada dalam determinasi sosial yang banyak menampilkan citra-citra kekerasan yang menghiasi gadget mereka, atau bahkan berada dalam budaya kekerasan, tanpa kita sadari budaya ini akan memengaruhi dalam melakukan tindakan selanjutnya.

Kedua, selain di jagat virtual, fenomena-fenomena radikalisme lainnya muncul di tengah-tengah institusi pendidikan. Misal, seorang anak di-bully oleh teman sekelasnya karena tidak sepaham dengan mereka. Pada saat yang bersamaan, pelakunya enggan menerima perbedaan dari pihak lain. Fenomena demikian merupakan cikal-bakal tumbuhnya benih-benih radikalisme.

Radikalisme adalah kejahatan serius yang tidak bisa dibiarkan keberadaan dan keberlangsungannya. Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa mempunyai tugas melanjutkan kendali laju kapal yang bernama Indonesia dalam mengarungi samudera demokrasi ke depan. Untuk bisa mengarungi samudera itu, tentu perlu pengawasan dari orangtua dalam membimbing sekaligus mendidik anak-anaknya dari merebaknya paham radikalisme yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

Disamping itu, upaya menangkal terjangkitnya virus radikaslisme sejak usia dini adalah juga butuh peranan dari guru-guru di sekolah dalam memberikan pemahaman, membimbing, sekaligus memberikan penyadaran terhadap anak-anak didiknya akan bahaya radikalime yang sewaktu-waktu bisa mengancam keberagaman dan keberagamaan di negeri ini. (ISNU)

Sumber: Harakatuna

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: