Teguhkan Kebhinnekaan, Quraish Shihab Merujuk ke Al-Qur’an

Rabu, 28 Juni 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Untaian kata dalam dakwah Prof DR Quraish Shihab selalu menarik untuk dicermati, dakwah yang sejuk,damai,penuh persahabatan dan didukung oleh dalil dalil agama yang kuat. Penyampaian kalimat kalimatnya yang bernas dan berwibawa menjadikan nya sebagai salah satu ulama yang disegani di negeri ini.

Setiap penjelasan keagamaan ayahanda Najwa Shihab ini tidak pernah menyerang keyakinan orang lain karena ia sadar fungsinya hanyalah menyampaikan dan bukan memonopoli tafsir atas kebenaran.

Kata katanya sangat kaya dengan ajakan atau persuasi dan sangat jauh dari hal hal yang bersifat provakasi.Kita percaya dengan gaya bicara yang demikianlah seseorang yang sangat berilmu menyampaikan pesan pesan suci.

Kalau ada orang yang ingin mendengar dakwah yang disampaikan dengan agitasi penuh retorikan tentu akan kecewa ketika mendengar dakwah atau tausyiah yang disampaikannya. (Baca: Jadi Khatib Idul Fitri, Quraish Shihab Ajak Umat Bangun Kebersamaan)

Demikianlah dibawah bayang bayang seruan ” kosongkan” Istiqlal yang menolak kehadirannya sebagai khatib sholat idulfitri 1 Syawal ternyata ahli tafsir terkemuka Indonesia ini tetap tenang menyampaikan khutbahnya.

Dihadapan Presiden dan Wakil Presiden serta sekitar 150’ribu jemaah sholat idulfitri ,Quraish Shihab berbicara tentang cinta tanah air dan kemajemukan bangsa.

Pengarang Tafsir Al Misbah ini mengatakan keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk semua mahluk ,termasuk manusia. (Baca: Quraish Shihab dan Gus Mus, Dua Ulama Hebat yang Selalu Menjadi Air di Tengah Api)

Pernyataannya ini merujuk kepada Al Qur’ an Surah Al Maidah ayat 48 yang terjemahannya dalam Bahasa Indonesia “Seandainya Allah mengkehendaki niscaya kamu dijadikannya satu ummat saja tetapi ( tidak demikian kehendak- NYA).Itu untuk menguji kamu menyangkut apa yang dianugrahkan Nya kepada kamu.Karena itu berlomba lomba lah kepada kebajikan.(Okezone News,Minggu ,25 Juni 2017).

Ayat yang dikemukakan oleh Quraish Shihab dengan jelas mengingatkan ummat Islam bahwa perbedaan yang ada ini karena memang Allah yang membuatnya berbeda.Dengan Ke-Maha Kuasaan-Nya,sesungguhnya Allah dapat membuat manusia ini tanpa perbedaan..DIA Yang Maha  Kuasa dapat membuat manusia hanya satu suku bangsa saja ,membuat manusia bercakap cakap dalam satu bahasa saja.Kalau Allah mengkehendaki

tidak perlu manusia menggunakan bahasa Mandailing,bahasa Aceh,bahasa Jawa ,dan ratusan bahasa lokal lainnya .Tetapi nyatanya Allah tidak mengkehendaki yang demikian.

Kalau Allah mengkehendaki tidak perlu ada perbedaan kulit,tidak perlu ada manusia yang matanya sipit ,hidung mancung,rambut keriting,gigi putih mengkilat ,tetapi nyatanya Allah tidak mengkehendaki yang demikian.

Kalau sudah demikianlah kehendakNya kenapa sebahagian dari kita sering membesar besarkan perbedaan yang ada.Malahan sebahagian orang atau kelompok mengeksploitasi perbedaan itu sedemikian rupa yang kemudian menyebabkan terjadinya perpecahan diantara sesama kita.

Makna menghargai perbedaan terasa semakin penting sekarang ini karena dirasakan dalam satu tahun belakangan ini perbedaan antar sesama warga bangsa semakin menajam.

Kita memperoleh kesan memang ada sosok sosok yang sengaja mempertajam perbedaan itu dan hal tersebut dilakukannya dengan menggunakan dalil dali agama padahal bagaimana memaknai perbedaan itu sudah sangat jelas terlihat melalui pesan suci Al Maidah 48.

Sangat kita pahami bahwa ummat Islam di negeri ini sangat mencintai agamanya tetapi janganlah karena kecintaan dan fanatiknya terhadap agamanya itu justru digunakan untuk memecah belah bangsa ini.

Karena ummat Islam di negeri ini sangat patuh dan sangat mendengar tausyiah yang disampaikan para kiai,ustad dan guru gurunya maka diharapkan janganlah orang orang yang mereka patuhi itu mengajak mereka memusuhi orang lain,”orang yang tidak sama dengan kita”.

Selanjutnya tentang cinta tanah air ,Quraish Shihab mengatakan ” Karena manusia diciptakan dari tanah tak heran jika cinta tanah air merupakan fitrah yakni naluri dari manusia”.

Selanjutnya dikatakannya kita sepakat ber-Bhinneka Tunggal Ika dan menyadari bahwa Islam bahkan agama agama lainnya ,tidak melarang kita berkelompok dan berbeda .Yang dilarang-Nya adalah berkelompok dan berselisih.

Dengan bertitik tolak kepada pesan pesan Al Qur’ an seyogianyalah ummat Islam di negeri ini selalu harus menjadi pelopor dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa kita.

Dalam konteks pemahaman yang demikian pula lah ummat Islam harus menyadari bahwa ajaran suci yang dipeluknya merupakan Rahmat Bagi Seluruh Alam.

Dari Mimbar Mesjid Istiqlal ,sang khatib Prof DR Quraish Shihab telah mengingatkan kita tentang esensi ajaran agama Islam yang kesemuanya diharapkan dapat menjadi bekal bagi kita untuk menguatkan semangat kebangsaan yang sudah lama  tersemai di hati kita. (ISNU)

Sumber: Kompasiana

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: