Tolak Lepas Jilbab, Miftahul Jannah Hanya Ingin Dapat yang Terbaik Dimata Allah

Rabu, 10 Oktober 2018

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Tampil di perhelatan Asian Para Games 2018 di negara sendiri kini hanya menjadi impian bagi atlet blin judo kelas 52 kg Indonesia, Miftahul Jannah (21). Atlet kelahiran Aceh tersebut terdiskualifikasi sebelum memasuki matras karena enggan melepas jilbabnya. Peristiwa tersebut terjadi Senin, (8/10) di JIExpo Kemayoran saat dirinya akan bertanding melawan pejudo asal Mongolia, Oyun Gantulga.

Karena alasan keselamatan aturan International Judo Federation dan International Blind Sport Federation mewajibkan atlet bertanding tanpa penutup kepala. Jilbab berpotensi dimanfaatkan lawan untuk mencekik leher dan berakibat fatal bagi atletnya.

Komite Paralimpiade Nasional dan tim Komandan Kontingen Indonesia sudah berdiskusi dengan Miftahul Jannah. Miftahul Jannah tetap pada pendiriannya mempertahankan jilbab dan memilih mundur sehingga batal bertanding melawan Oyun Gantulga.

Menurut penanggung jawab pertandingan judo Asian Para Games 2018 Ahmad Bahar, Miftahul mendapatkan diskualifikasi dari wasit karena ada aturan wasit dan aturan pertandingan tingkat internasional di Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA). Aturan tersebut menyebutkan bahwa pemain tidak boleh menggunakan jilbab dan harus lepas jilbab saat bertanding.

Bahar juga sudah mengarahkan atlet, tapi tetap tidak mau. Bahkan, kata Bahar, dari Komite Paralimpiade Nasional (NPC), tim Komandan Kontingen Indonesia sudah berusaha dan mendatangkan orang tua dari Aceh untuk memberi tahu demi membela negara.

“Hal yang perlu ditekankan adalah juri bukan tidak memperbolehkan kaum muslim untuk ikut pertandingan. Aturan internasional mulai 2012, setiap atlet yang bertanding pada cabang judo tidak boleh berjilbab karena dalam pertandingan judo ada teknik bawah dan jilbab akan mengganggu,” ujar Bahar.

Sebelum bertanding, Ahmad Bahar mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk membujuk Miftahul Jannah melepaskan jilbabnya. Bujukan orang tua hingga psikiater tetap tak mampu meluluhkan keputusan Miftahul Jannah.

“Kami sudah mengusahakan untuk mendatangkan orang tuanya dari Aceh dan itu arahan dari Cdm (kepala kontingen) langsung. Kami juga sudah memberikan psikiater, akan tetapi atletnya juga sudah tidak mau,” ujar Ahmad Bahar.

Sementara itu, sang atlet, Miftahul Jannah, mengaku sempat menangis tapi lega setelah memutuskan tetap tak mau melepas jilbabnya. Menurutnya, itu adalah keputusan terbaik.

“Lebih banyak lega. Saya juga bangga karena sudah bisa melawan diri sendiri, melawan ego sendiri. Saya punya prinsip tak mau dipandang terbaik di mata dunia, tapi di mata Allah,” kata Miftahul Jannah, kepada wartawan setelah gagal bertanding seperti dilansir bola.com.

Meski masih muda, Miftah merupakan salah satu atlet berbakat yang dimiliki Indonesia. Dikutip dari laman resmi Asian Para Games 2018, pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 di Jawa Barat lalu, dia berhasil menyabet medali emas kelas 48 kilogram.

Sebenarnya Miftah merupakan perempuan kelahiran Aceh, dan keluarganya masih tinggal di sana. Namun, karena punya bakat bagus, pada Peparnas 2016, dia diajak untuk membela Provinsi Jawa Barat.

Pasca terdiskualifikasi, Miftahul Jannah ramai diperbincangkan di media sosial twitter hingga menjadi trending topic teratas. Dukungan dan motivasi mengalir deras untuk Miftahul Jannah yang dinilai teguh dalam mempertahankan prinsip keyakinannya. Namun, netizen juga tidak memungkiri bahwa regulasi harus ditaati, apalagi aturan tersebut dibuat untuk keselamatan atlet. (ISNU)

Sumber: NU Online

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: