Tradisi Unik Masyarakat Using Banyuwangi Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Atraksi-api-TRADISI-GREDOAN-BANYUWANGI-640X420

Masyarakat Dusun Kejoyo Desa Tambong Kecamatan Kabat Banyuwangi melakukan atraksi api pada Tradisi Gredoan ajang mencari jodoh di desa setempat. Acara tersebut digelar juga untuk merayakan hari Maulid Nabi Muhammad – Foto: Kompas

Minggu 3 Januari 2016

BANYUWANGI, ISLAMNUSANTARA.COM – Ada tradisi unik masyarakat Using Kabupaten Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang dinamakan Gredoan ini bagi warga Dusun Kejoyo, Desa Tambong, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi sebagai ajang mencari jodoh bagi yang masih menjomblo.

Tradisi Gredoan dilaksanakan warga Dusun Kejoyo Desa Tambong, Sabtu (2/1/2015) malam, menghabiskan 700 liter minyak tanah. Acara tersebut mempertontonkan atraksi api yang dimainkan pemuda desa tersebut.

Pembukaan tradisi tahunan tiap bulan maulid ini ditandai dengan dentuman petasan dan kembang api. Ragam atraksi tongkat api menjadi hiburan berikutnya yang tak akan dilewatkan begitu saja oleh ribuan penonton.

Dalam atraksi ini, para pemuda Desa setempat unjuk kebolehan memainkan tongkat api. Mulai dengan pamer kebolehan membentuk formasi, atraksi mayoret hingga seni bela diri.

Ketua panitia Agus Hermawan menyampaikan bahwa 700 liter minyak tanah yang digunakan tersebut merupakan hasil iuran masyarakat. “Setiap rumah memberikan sumbangan seikhlasnya, istilahnya adalah mupu,” ujar dia.

Menurut dia, minyak tanah tersebut digunakan untuk bahan bakar atraksi api yang menggunakan bambu atau menggunakan tali yang dibakar ujungnya.

“Ada sekitar 100 anak muda yang akan atraksi sepanjang jalan keliling kampung,” sambung dia.

Gredoan, menurut Budayawan Banyuwangi, Hasan Basri merupakan tradisi masyarakat Using untuk mencari jodoh yang dilakukan beberapa desa di Kabupaten Banyuwangi terutama di wilayah Kecamatan Kabat dan Kecamatan Rogojampi .

Menurutnya, mencari jodoh ini berlaku buat mereka yang gadis, perjaka, duda atau janda. Diadakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya dilakukan pada malam hari sebelum paginya selamatan di masjid.

“Pada saat peringatan Maulid Nabi, banyak sanak saudara yang datang, lalu di sana ada perkenalanan dan perjodohan. Ada juga yang niat untuk datang dan benar-benar cari jodoh,” ujar dia.

Sebelum pengajian para gadis membantu orang tuanya memasak di dapur. Pada saat itu laki-laki yang mengincarnya berada di luar rumah. Dan sang laki-laki memasukkan lidi lewat dinding rumah yang masih terbuat dari gedhek (bambu).

Kalau sang perempuan mengiyakan perkenalan tersebut, lidinya akan dipatahkan. Dan mereka akan saling merayu dan ngobrol berdua tapi dibatasi dengan gedhek (dinding anyaman bambu) karena memang tabu jika laki-laki dan perempuan berdua-dua tanpa ikatan. Biasanya laki-laki tersebut sudah mengincar perempuannya untuk dijadikan istri dan berakhir pada lamaran dan pernikahan.

Slamet Adi Riyanto misalnya. Pemuda asal Banyuwangi kota tersebut memberanikan diri datang ke acara ini hanya untuk berkenalan dengan Lina, seorang gadis desa setempat. Selama kaum muda-mudi bercengkerama di ruang tamu, para orang tua berada di teras rumah untuk memberi keleluasaan.

“Semoga perkenalan ini bisa lekas membawa saya ke pelaminan,” ucap Adi, Sabtu malam (2/1/2016).

Adapun atraksi api dalam Gredoan, sambung dia, merupakan daya tarik dan tontonan bagi warga yang datang. “Ini merupakan keriangan bersama. Bagian dari ritual adat yang akan memberikan kepuasan secara spiritual bagi masyarakat,” ucap Hasan.

Berbagai macam atraksi yang ditampilkan adalah gambaran keanekaragaman sifat manusia di dunia. Ada yang jahat ada pula yang baik. Terlihat dari beberapa boneka yang menggambarkan sifat-sifat manusia yang jahat. Semuanya dikembalikan pada tuntunan Nabi Muhammad SAW.

“Jadi memperingati kelahiran Nabi Muhammad sekaligus juga untuk mencari pasangan hidup,” Syaifudin, tokoh masyarakat Desa Macan Putih.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: