Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara Tangkal Dampak Globalisasi

pengurus=lesbumi

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj berfoto bersama Pengurus Lesbumi – Foto: NU Online

Jumat 29 Januari 2016

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) telah melahirkan Saptawikrama (Al Qowaid As Sabah) yang berarti tujuh strategi kebudayaan Islam nusantara.

Saptawikrama (Al Qowaid As Sabah) adalah keputusan strategis yang paling ditunggu oleh PBNU dalam Rakernas LESBUMI karena merupakan bagian integral dari pedoman kebijakan NU dalam merumuskan kebijakan dan menentukan sikap terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi warga NU (Nahdiyin) pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

“Sasarannya pada warga Nahdliyin sendiri karena warganya ada sekitar 80 juta, kita tidak ingin jamaah besar ini hanyut dalam skenario arus globalisasi,” ujar Ketua Pengurus Pusat Lesbumi NU Agus Sunyoto di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/1/2016).

Agus menambahkan, keputusan strategis ini yang meneguhkan posisi Lesbumi PBNU sebagai Garda Nasional Peradaban, Kesenian dan Kebudayaan Islam Nusantara ini menandai kehadiran dan fungsi penting Lesbumi dalam meneguhkan Islam Nusantara untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Menurut Agus, tujuh strategi kebudayaan Islam nusantara merupakan gerakan untuk melawan arus globalisasi yang mulai mengikis kebudayaan di Indonesia.

Menurut dia, kebudayaan Islam nusantara adalah ajaran Islam yang kembali ke akarnya tradisi budaya yang sejak dahulu dijalankan umat Islam di Indonesia.

“Namanya baru tapi akarnya lama, ajarannya seperti tradisi tahlinan, shalawatan, ziarah kubur, kenduri karena hal-hal seperti itu yang mau dihilangkan dengan arus globalisasi,” tutur Agus.

Saptawikrama (Al Qowaid As Sabah) ini hasil Rakernas LESBUMI PBNU yang dibuka oleh Ketua Umum PBNU, Prof Dr  KH Said Aqil Siradj, MA dan Sekjen LESBUMI PBNU, H Uki Marzuki Solihin masa khidmah 2015 -2020, pada Rabu-Kamis, 27 dan 28 Januari 2016 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

SAPTAWIKRAMA (AL-QAWA’ID AS-SAB’AH)

Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara

1. Menghimpun dan mengosolidasi gerakan yang berbasis adat istiadat, tradisi dan budaya Nusantara.

2. Mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta’lim) yang berkaitan erat dengan realitas di tiap satuan pendidikan, terutama yang dikelola lembaga pendidikan formal (ma’arif) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).

3. Membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistemologis keilmuan.

4. Menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.

5. Menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhnineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.

6. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara.

7. Mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global.

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: