Ulama Bahrain: Islam Agama Damai Bukan Agama Pembantaian

Jum’at, 29 Juli 2016,

ISLAMNUSANTARA.COM, PEKALONGAN – Pekalongan (28/7) – Syaikh Ibrahim Rasyid al-Muraikhi, ulama asal Bahrain, juga mendapat kesempatan untuk menyampaikan wacananya dalam Konferensi Internasional Bela Negara hari kedua di Hotel Santika, Pekalongan. Beliau menyampaikan makalah tentang ‘Makna Jihad yang Benar’ sebagai respon atas kondisi kaum muslimin saat ini. Ada beberapa hal yang beliau sampaikan mengenai tema ini.

Islam adalah agama kedamaian. Lafal ‘salam’ di dalam Al-Quran disebutkan hingga 140 kali. Bahkan ‘As-Salam’ adalah salah satu nama di antara Nama-nama Allah. Di dalam shalat pun, ungkapan salam dihaturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ‘salam’ bermakna kedamaian, maka kita bisa pahami bahwa kedamaian menjadi perhatian besar dalam Qur’an dan sunnah Rasulullah, dan tentu saja hal ini ada tujuannya. Islam yang bermakna dasar kedamaian tentu saja mengajak seluruh pemeluknya kepada kedamaian, keselamatan, kesejahteraan.

Di dalam Islam, syariat sangat mengakui kemuliaan darah manusia secara umum. Tidak diperkenankan menumpahkan darah manusia tanpa hak, sebagai bentuk perhatian besar Islam terhadap hak-hak kemanusiaan. Islam adalah agama kasih sayang, bukan agama pembantaian, bukan agama yang bengis penebar ketakutan. (Baca juga: Kyai Said Agil: Jihad Dalam Islam Bukan Hanya Perang Melulu)

Adapun tentang jihad, hal tersebut merupakan wasilah (sarana) mencapai suatu tujuan. Tentu saja, tujuan adalah yang diutamakan, sedangkan sarana haruslah mengikuti tujuan. Maka jihad harus mengikuti kepada tujuannya, yakni keselamatan, kedamaian, ketenteraman.

Dalam hal ini, ada dua jenis jihad. Yakni jihad ofensif dan jihad defensif. Dakwah ofensif berupa dakwah dengan hikmah dan cara yang baik, bukan dengan teror apalagi pemaksaan. Sedangkan dakwah defensif adalah mempertahankan diri secara fisik dari agresi musuh yang zalim, berupa perang. Adapun jihad defensif berupa perang tidak dapat dilaksanakan tanpa arahan waliyul amri yang otoritatif.

Jihad haruslah didasari, dimulai, dan dilakukan dengan ilmu. Yakni seorang mujahid harus memahami maqashidus syari’ah dengan pas. Khususnya dalam jihad fisik berupa perang. Jangan sampai semangat angkat senjata yang kita lakukan dan kita anggap jihad justru memerosokkan ke neraka. Banyak hadits Rasulullah mengabarkan tentang hal-hal ini. (Baca juga: Habib Lutfi: Teriak Jihad Tapi Lupa Kepada Allah)

Karena semangat jihad tanpa ilmu bisa membahayakan. Tidak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga membahayakan kemanusiaan secara luas. Sehingga muncullah sikap mudah menyalahkan, mengkafirkan, menyesat-sesatkan, kemudian diikuti dengan penghalalan darah dan pembunuhan. Sungguh suatu hal yang sangat keji, ketika ucapan-ucapan keji berupa pengkafiran dan pembid’ahan kemudian diikuti dengan perbuatan keji pula berupa pembantaian oleh mereka yang mengaku sedang berjihad. (ISNU)

Sumber: Jatman Event

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: