Wajah Islam Damai Menurut Gus Mus di Mata Najwa

14 April 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Mata Najwa dalam chirpstory twitternya :

Agama harusnya menjauhkan kita dari dosa dan perilaku tercela. Dosa kepada yang maha kuasa dan kepada sesama.

Para ulama punya tugas dan kewajiban, mengajarkan ketaatan pada Tuhan dan kepekaan pada kemanusiaan.

Menjadi panutan agama dengan ketakwaan, menjadi teladan bangsa dengan kesederhanaan.

Banyak ulama yang bisa menjadi contohnya dan Gus Mus adalah salah satunya.

 “Saya adalah warga dunia, warga Indonesia, warga Islam. Dari ketiga peran sebagai manusia ini, saya ada keresahan,”  

“Kita kembali ke zaman Qabil dan Habil. Kita masih tetap melakukan perilaku Qabil terhadap Habil. Kita saling memangsa,”  

“Saya khawatir ini adalah salah satu siksa Allah. Seperti dlm kitab suci saya, Al Quran, bisa dari atas atau dari bawah,”

“Ada yang sesama kita dibuat sedemikian rupa sehingga masing-masing.  memperlihatkan keganasannya kepada yang lain,”  

“Bukan hanya di alam nyata. Di alam maya, fitnah menfitnah sdh luar biasa, semua bisa dihantam,”  

“Yang kita perlihatkan bukan seperti org Islam. Orang Islam itu ada tatanannya, sunnahnya, Rasulnya sebagai panutan,”  

 “Alih-alih mengenal Allah, nabi, atau Al Quran. Kita duduk bersama ini bahkan sibuk melihat hp-nya sendiri-sendiri,”  

“Entah siapa yang kita ajak bicara. Kita jarang melihat manusia. Kita krisis komunikasi dan sosialisasi,”  

“Yang orang tidak tahu tentang saya adalah kebodohan saya,”  

“Kalau Anda yakin dengan agamamu, apapun yang disampaikan kepada kamu maka kamu tidak terpengaruh, bergeming,”  

Keyakinan ini kan kekuatan. Kalau orang takut diserang atau ini itu tandanya belum yakin,”  

Dalam tulisan berjudul “Bahasa Geram”, Gus Mus menyinggung soal orang pintar baru (OPB).  

“OPB adalah orang yang ingin menunjukkan kepandaiannya. Mestinya orang pinter itu biar lama dulu, baru berinteraksi,”  

“Kalau dia bangga dengan ilmu dan kemampuannya itu yang menurut saya orang pintar baru,”

Gus Mus tidak pernah berbicara “kami umat Islam…” seakan beliau mewakili seluruh umat Islam.

Gus Mus sendiri takut apakah benar beliau muslim? Sebab muslim artinya manusia yang secara total berserah diri kepada Tuhan, dan berserah diri mempunyai makna yang sangat dalam. Ketika seseorang berserah diri, maka ia mengemban sifat-sifat Tuhan dalam dirinya yang berinti pada menjadikan diri berfungsi kepada manusia lain.

“Benarkah aku sudah berserah diri? Bukankah aku masih terbungkus keinginan duniawi? Siapakah aku mengaku-ngaku bahwa aku seorang muslim?”

Begitulah cirri-ciri manusia yang mempunyai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal dan melemahkan nafsunya. Bukan meng-klaim, karena iblis paling handal kalau masalah mengklaim dirinya paling taat, paling hebat, paling dekat kepada Tuhan.

Tidak mudah mencari manusia seperti Gus Mus di dalam Islam, tapi sejatinya mereka banyak hanya tidak tampak. Mereka terselip diantara tembok-tembok kemunafikan menjadi penyeimbang. Mereka tidak ingin mencari kejayaan, karena sejatinya kejayaan hanya pengakuan dari manusia dan manusia adalah tempatnya fitnah. Merekalah yang menjaga negara ini supaya tetap tentram, sejuk dan selalu toleran. Lihatlah wajah Islam dari Gus Mus, karena sejatinya begitulah para wali bergerak, berbicara dan bersikap, dikutip dari Dennysiregar.com (14/04).

Melihat Gus Mus di mata Najwa kemarin malam, saya tersenyum. Setidaknya ada wakil yang menampakkan sesungguhnya bagaimana ketika beragama itu dengan berakal. Berikut puisi Gus Mus:

SAJAK ATAS NAMA

Ada yang atas nama Tuhan melecehkan Tuhan

Ada yang atas nama negara merampok negara

Ada yang atas nama rakyat menindas rakyat

Ada yang atas nama kemanusiaan memangsa manusia

Ada yang atas nama keadilan meruntuhkan keadilan

Ada yang atas nama persatuan merusak persatuan

Ada yang atas nama perdamaian mengusik kedamaian

Ada yang atas nama kemerdekaan memasung kemerdekaan

Maka atas nama apa saja atau siapa saja

Kirimlah laknat kalian

Atau atas namaKu perangilah mereka,

Dengan kasih sayang…

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: