Wakil Direktur PSQ: Toleransi Adalah Anugerah Tuhan dan Fitrah Manusia

Rabu, 29 November 2017

ISLAMNUSANTARA.COM, Jakarta – Berbagai konflik yang dianggap sebagai konflik agama sesungguhnya tidaklah murni disebabkan agama. Melainkan dilatarbelakangi faktor lain seperti ekonomi, politik dan hukum.

Demikian disampaikan oleh Wakil Direktur Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) Muchlis M. Hanafi dalam Dialog keagamaan yang diselenggarakan di Sabang Merauke pada Jumat, (24/11).

Dalam dialog keagamaan bertema “Melintas Sekat Religi”,  Muchlis Hanafi mengatakan, tidak sulit melacak budaya damai dalam ajaran Islam. Islam, salam, silm berasal dari satu akar yang semua bermuara pada kedamaian. Bahkan tuhan yang diperkenalkan oleh Islam disebut As-Salam, surga tempat kembali orang-orang beriman juga disebut As-Salam, bahkan penghormatan terhadap sesama manusia juga disebut salam.

Maka tak heran bila Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian. Di dunia pesantren bahkan terdapat istilah yang sangat melekat yaitu “Cinta tanah air adalah sebagian dari Iman”.

Dala acar dialog tersebut dihadiri oleh enam tokoh agama dari berbagai agama di Indonesia. Diantaranya I Wayan Kantun Mandara (Hindu), Pdt. Jose Carollis (Kristen), Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja (Budha), Muchlis M. Hanafi (Islam), Peter Lesmana (Khonghucu), dan Romo Antonius Benny Susetyo Pr (Katolik).

Keenam tokoh tersebut menyampaikan ajaran perdamaian dari perspektif agama masing-masing. Keberadaan agama harusnya menjadi solusi karena pada hakikatnya tidak ada ajaran agama yang membenarkan konflik karena perbedaan. Semuanya memiliki prinsip perdamaian masing-masing.

Misalnya agama Hindu menjunjung perdamaian melalui prinsip “Rikayeparisme”, yakni tiga prilaku yang harus disucikan dalam kehidupan seharian. Tiga prilaku itu adalah pertama, selalu berfikir baik, kedua selalu berkata baik dan ketiga selalu berbuat baik. Melalui pengamalan tiga prilaku ini seseorang akan mampu mewujudkan etika moral yang dalam ajaran Hindu disebut “Tri Hita Karana”.

I Wayan Kantun Mandara mengatakan, toleransi merupakan warisan. Para pendahulu telah merumuskan dasar negara, lambang, semboyan dan lainnya. Maka menjaganya adalah kewajiban para penerusnya.

Sedangkan Muchlis Hanafi berpendapat bahwa toleransi bukanlah anugerah dari kaum mayoritas ke minoritas, tetapi lebih dari itu. Toleransi adalah anugerah tuhan, fitrah manusia. Maka toleransi harus dijaga.

“Bukanlah seorang muslim sejati yang mengganggu orang lain. Seorang muslim sejati adalah yang menjaga diri dari menyakiti orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan”, ujar laki-laki yang dipercaya menjadi penerjemah presiden ini. (ISNU)

Sumber: Islami.co

 

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: