Wawancara Ekslusif I dengan Ketum PBNU KH Aqil Siradj “Radikalisme Hancurkan Persatuan Islam”  

05 Februari 2016,

JAKARTA, ISLAMNUSANTARA.COM – Wawancara ekslusif redaktur Islamnusantara.com dengan Ketua Umum PBNU KH Aqil Siradj di kantor Pusat PBNU, pada hari Senin (02/02/2016), Alhamdulillah kami diterima dengan hangat disela-sela kesibukan beliau yang juga menerima tamu-tamu dari berbagai pihak, baik dari pejabat negara dan tamu luar negeri. Melihat semakin masifnya gerakan radikalisme di Indonesia, maka alangkah baiknya kita bertanya langsung kepada Ormas Islam terbesar yaitu PBNU yang selama ini intens sekali melawan gerakan radikal dan Khilafah. Berikut petikan wawancara:

NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang mayoritas memeluk Aswaja. Ada Indikasi radikalisme digunakan untuk mengancurkan Islam di Indonesia melalui isu konflik mazhab, Bagaimana menurut anda?

Saya mau cerita dulu jauh sebelum itu. Di abad 18 ketika khilafah Turki mulai lemah, wilayah Islam yang membentang di atas bumi ini sangat luas, mulai dijadikan bancakan oleh kolonial. Aljazair dijajah Perancis, Tunisia dijajah Perancis, Libya dijajah Itali, Mesir dijajah Inggris, Suriah dijajah Prancis, Irak dijajah Inggris, Indonesia dijajah Belanda, kemudian sampai titik terakhir khilafah Utsmaniah bubar tahun 1924. Khalifah terakhirnya namanya Abdul Majid.

Ada perlawanan terhadap penjajah dari ulama-ulama Islam. Yang menonjol sekali dan terorganisir dengan baik seperti Ikhwanul Muslimin, ada Hasan Al-Banna, Sayyid Qutub, Muhammad Asmawi, Yusuf Qardhawi, Said Hawa, dan Hasan Turobi. Ternyata perlawanan ulama-ulama tersebut gagal. Mereka mainstreamnya masih menginginkan berdirinya khilafah Islam. Jangankan untuk berjuang keluar, di internal umat Islam sendiri pecah. Muncul perdebatan apakah harus memunculkan model khilafah lagi atau tidak, kalau harus khilafah apakah di Turki lagi atau tidak. Ada yang berpendapat memindahkan pusat kekuasaan dari Selat Bosporus ke Nil. Walhasil internal umat Islam sendiri tidak solid.

Kemudian lahirlah sebuah partai yang ideologinya nasionalisme. Tidak berlandaskan agama, bahkan sekuler yaitu partai Baath. Ideologi partai ini adalah tidak jelas. Orang Suriah yang sekuler membangun gerakan-gerakan berbasis nasionalisme. Ternyata perjuangan berbasis nasionalisme berhasil mengusir penjajah. Kader-kadernya kalau di Irak namanya Hasan Bakr dan disusul oleh Saddam Husain, Abdul Qasim di Suriah, termasuk Hafez Al Assad. Kader-kader lain termasuk, Gamal Abdul Naser, Muhammad Najib, Solah Salim, Muammar Qadafi, semua ini orang-orang partai Baath yang bukan ulama atau yang Islamnya kurang. Tidak ada visi dan misi Islam dalam perjuangan mereka. Yang Islam tidak ada nasionalisme, yang nasionalis tidak ada semangat ruh Islam. Sehingga terjadi benturan keras antar dua kelompok itu. Gamal Abdul Naser pernah menggantung 6 ulama tahun 1966. termasuk yang digantung adalah Sayyid Qutub. Hafez Al Assad yang pernah membakar kota Homs dan Saddam Husain yang tangannya berlumuran darah membunuh para ulama Irak. Ribuan ulama dibunuh oleh Saddam Husain.

Di Indonesia alhamdulillah, ada gerakan yang dipimpin ulama dan nasionalis. KH Hasyim Asy’ari itu ulama tapi nasionalis. KH Wahab Hazbulloh, KH Wahid Hasyim, Gus Dur, semua itu ulama tapi nasionalis. Di luar NU, ada ulama dari Muhammadiyah juga nasionalis. Alhamdulillah satu problem besar ini sudah tidak ada. Kita sudah mampu mempertemukan antara semangat Islam dan semangat nasionalis. Di Timur Tengah jangan berharap ada ulama nasionalis seperti Mbah Hasyim. Sampai Mbah Hasyim mengeluarkan jargon ‘Hubbul wathon minal Iman’. Ini bukan hadits, ini jargonnya Mbah Hasyim.

Banyak orang mengatakan itu hadits padahal bukan. Dalil itu tidak pernah diucapkan ulama dari Timur Tengah. Di Timur Tengah tidak ada ulama-ulama yang bisa mempertemukan ruh Islam dengan spirit nasionalisme. Artinya adalah ini ideologi garis tengah atau ideologi moderat.

Mengapa di Timur Tengah seperti itu? karena beda budaya, beda karakter. Karena itu tema besar Muktamar kemarin itu “Memperkokoh Islam Nusantara adalah Islam yang menyatu dengan budaya”. Ini warisan Walisongo bahwa Islam tidak bertentangan dengan budaya kecuali budayanya tidak sesuai dengan syariat Islam, seperti seks bebas dan minum khamr. Kalau kita bisa mengisi budaya ini dengan nilai Islam, seperti tahlilan, baca tasbih, nyekar jadi  ziarah kubur dengan bacaan surat Yaasin. Sesajen jadi selamatan dengan baca doa. Ini semua media dakwah. Islam bisa masuk ke kerajaan majapahit tanpa perang.

Yang kedua Islam yang menghormati keberagaman. Kita ini memilik banyak bahasa, sekian ribu pulau, sekian suku, sekian agama dan keyakinan, termasuk sekian keragaman politik. Semua kita jadikan satu dengan semangat “Islam Nusantara”.

Kemudian dari sisi politik kita menyatukan Islam dengan nasionalisme. Ini bisa menyatukan berbagai suku, budaya, bahasa.

Kalau sekarang ini apa yang dilakukan NU secara rill untuk mencegah radikalisme di kalangan pemuda?

Kalau NU ada atau tidak terorisme, ada atau tidak ada bom, sepanjang perjalanan dakwah NU selalu mengajak untuk hidup rukun. Para Kyai ini dalam cermah-ceramahnya selalu mengajak untuk saling menghormati, bersatu, sejak dulu begitu. itulah toleransinya Kiai NU. Mbah Hamid di Pasuruan seorang tokoh NU yang tidak berjauhan dengan kelompok Syiah, hanya berjarak 5 km dari Bangil, toh tidak terjadi bentrok, aman-aman aja. Pernahkah kita bakar-bakar? Pernah tahun 1960-an di kecamatan saya santri-santri demo. Itu ayah saya kalau memberikan pengarahan kepada santri yang demo, berpesan jangan bakar Gereja ya. Dan betul, gereja gak dibakar. Artinya orang-orang tua kita ini mengerti spirit agama dan tau bagaimana menjaga kredibilitas Islam. Kalau seperti sekarang ini, jangankan Gereja, Masjid aja dibom, sebagaimana di Irak. Di Irak itu yang dibom siapa dan yang ngebom siapa, tidak jelas. Kitapun terus menerus memberikan bimbingan, pelatihan dan berhasil bagi generasi muda NU untuk tidak terpengaruh gerakan radikal. Apa indikasinya? Banser NU pakaiannya doreng tapi tidak galak. Yang pakaiannya putih, celana cingkrang, peci putih, pakai koko galak. Pagar Nusa pake hitam-hitam tidak galak.

Memang sepanjang sejarah Islam itu sistem bernegara disebut khilafah. Tapi hilangnya khilafah Turki Utasmani tahun 1924, yang khlifahnya bernama Abdul Majid, maka muncullah konsep nasionalime. Betul konsep nasionalis itu dari Barat, tapi kita harus realistis, kita jangan mimpi kembali ke jaman khilafah. Asalkan nasionalisme kita berspirit Islam. Kita nasionalis tapi punya semangat Islam. Tidak nasionalis yang kering yang sekuler, tidak.

Kalau negara-negara teluk itu, Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, UEA, itu tidak ada nasionalis, mengapa? Karena lahirnya negara ini tidak dari perjuangan bangsanya. Lahirnya negara ini hadiah dari negara kolonial. Sebagaimana Israel juga hadiah dari negara kolonial. Negara-negara ini dikuasai keluarga, sebagaimana Bahrain dikuasi keluarga Al Khalifah, Saudi dikuasai keluarga Bani Saud.

Antara Saudi dengan Yaman tidak akan pernah akur selama empat kota besar masuk Saudi Taiz, Najran, Abha, Sa’ada. Sejak jaman ratu Bilqis, empat kota ini eropanya Yaman. Dari dulu memang milik Yaman empat kota ini. Selama empat kota ini masuk Saudi, persoalan Yaman tidak akan beres. Najran lebih dulu milik Yaman, apalagi kisah pembunuhan orang-orang nasrani dibakar, dikenal dengan Ashabul wadud. Orang kristen dimasukkan parit kemudian dibakar hidup-hidup itu kejadian di Yaman. Orang-orang majusi ini kemudian diserang oleh orang Ethiopia yang dikenal dengan Habasyah, namanya Ariyadh. Ariyadh digulingkan oleh panglimanya setelah masuk ke Najran, namanya Abrahah. Raja Abrahah membangun kerajaan besar mau membelokkan orang yang mau pergi haji ke Najran. Kisah yang disebut dengan ashabul fil ini diabadikan oleh Al-Qur’an. Bagaimana kekejaman orang majusi membunuh orang Nasrani, kejadiannya di Najran.

Di Indonesia ini sudahlah, Founding Fathers kita sudah sepakat, NU, Muhammadiyah, Rabithah Alawiyah, bercita-cita membangun sebuah negara kesatuan berbasis kebangsaan. Kalau dalam bahasa arab disebut “Darussalam” artinya negara yang damai. Bukan darul Islam, bukan darul kufr, namanya Darussalam. Antar suku, antar agama hidup rukun. Lahirlah negara Indonesia yang mengikutsertakan juga para ulama. Kalau yang resmi Mbah Wahid Hasyim bapaknya Gus Dur, Kahar Muzakar dari Muhammadiyah, Agus Salim dari Syarikat Islam, Abdurrahman Baswedan dan lain-lain. Dari kalangan nasionalis ada Bung Karno, Bung Hatta, Katolik dan Kristen ada AA Maramis semua sepakat mendirikan negara atas dasar nasionalisme.

Sekarang tinggal bagaimana kita dakwah Islam melalui niai-nilai pancasila ini. Pancasila diisi dengan Islam. Bagaimana caranya mainstream bangsa ini befikirnya dengan akhlak Islam. Budaya Islam. Tidak usah berusaha mengganti negara Islam nanti dikhawatirkan kalau ada oposisi, pemerintah menghantamnya atas nama Islam. Mesir itu anti pemerintah Islam. Itu juga terjadi dalam sejarah, sebagaimana yang dialami oleh Al Hallaj. Dia dibunuh karena persoalan politik sebenarnya, bukan karena dia bilang ‘Anallah’. Ibnu Arabi, Ghulam Al Khalil, dan lain-lain yang dibunuh karena politik yang diatasnamakan Islam.

Jadi kalau negara ini Islam nanti kalau ada orang mengkritik dituding anti Islam. Nanti kalau ada orang yang mengkritik pemerintah tudingannya bisa kafir dan zindik. Ini menyeramkan.

Katolik dulu juga begitu. Katolik membabi buta ketika gereja berkuasa. Kalau ada orang anti penguasa, mengkritik penguasa, maka disebut anti Katolik.

Sudah benar, sudah pas lah kita ini darussalam tadi bahasa arabnya. Negara kebangsaan yang penting nilai-nilai Islam itu dijalankan, seperti pesan tentang, keadilan, kesejahteraan, kesehatan, kecerdasan atau pendidikan. Nilai-nilai ini tadi kan nilai Islam semua itu.

Ada seorang pemimpin, amanah, menegakkan hukum dan keadilan, ingin mensejahterakan rakyat, ingin mencerdaskan rakyat, ingin bangun rumah sakit, ingin bangun sekolahan, ya islami itu walaupun bukan negara Islam. Daripada pemimpin Islam tapi zalim seperti korupsi, masyarakatnya tidak berakhlak.

Apa formula tepat PBNU untuk cegah radikalisme untuk para pemuda?

Sudah kita lakukan melalui IPNU, IPPNU, PMII, meski PMII ini independen. Yang resmi NU itu KMNU. Melalui kelompok-kelompok ini kita berhasil mencegah radikalisme minimal menjaga warga NU dari pengaruh radikalisme. Contoh, ini bukti. Banser Ansor itu pakaiannya doreng-doreng tidak galak, tapi anehnya ada kelompok yang pakai celana cingkrang, songkok putih, baju koko malah bertindak anarkis. Kebalikannya, kyai yang pakai sarung kok moderat, tapi yang pakai dasi kok radikal.

Cara lain dengan mendakwahkan Islam yang moderat seperti contoh kita ini boleh ber KB jika dengan tujuan demi kelangsungan hidup, demi menjaga kecantikan istri, demi menjaga agar pendidikan anak tetap berlangsung, itu boleh. Tapi kalau ada orang yang berbuat kerusakan seperti sirrir, Islam harus keras. Contoh, seorang psikopat, belum bisa tidur kalau belum membunuh, negara harus bertindak keras terhadap orang seperti ini. Orang yang membangun pabrik sabu-sabu, kan merusak ini. Negara harus bertindak keras terhadap orang seperti ini. Orang yang merusak tataan kehidupan tadi tidak layak hidup.

Radikalisme menjadi persoalan perang opini di media terutama di dunia maya yang sangat mudah diakses oleh pemuda. Apa solusi untuk mengatasinya?

Rasulullah habis perang mendapatkan harta rampasan banyak. Membagi-baginya aneh. Yang senior tidak mendapat bagian, Abu Bakar,Umar, Usman, dapat satu kambing-pun tidak. Yang kaya raya tapi muallaf dapat banyak. Abu Soyan dapat 100 onta. Ada yang protes dari belakang, Namanya Dil Quwaisir muncul dengan sombong. Orangnya kepalanya botak, jenggotnya panjang, gamisnya setengah kaki. Dia berkata yang adil dong Muhammad. Nabi berkata yang saya lakukan ini bukan kemauan saya. Orang itu pergi Nabi mengatakan, nanti akan muncul di tengah-tengah umat Islam orang seperti ini, dia membaca Al Quran tapi tidak melewati tenggorokannya atau tidak memahaminya. Binatang lebih bagus daripada mereka. Jangan masuk ke dalam golongan mereka karena aku berlepas diri dari mereka. Ini diriwayatkan di Shahih Muslim.

Artinya Nabi Muhammad sudah memprediksi nanti akan muncul kaum radikal. Dan ternyata terbukti. Yang membunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. itu orangnya rajin menegakkan shalat malam, ahli puasa dan hafal Qur’an, namanya Abdurrahman ibnu Muljam dari bani Tamim. Dia membunuh Ali karena menuding Ali sebagai kafir. Mengapa Sayyidina Ali ra. kafir? karena Ali tidak menjalankan hukum Allah. Ali dinilai kafir karena menerima hasil keputusan rapat manusia saat tahki fi kitabullah yang Abu Musa Al-Ansori ditipu Amr bin Ash. Ali dinilai kafir karena menerima hukum lewat musyawarah bukan hukum Allah. Abdurrahman Ibnu Muljam berpendapat bahwa hukum itu hukum Allah, kalo hasil musyawarah itu hukum manusia. DPR, MPR kafir semua kalau begitu. Jadi radikalisme itu larinya kesana, yaitu mengkafirkan DPR dan MPR. (ISNU)

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: